PksNeglasari, - Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta mengatakan, Konferensi Asia - Afrika (KAA) ke-60 harus menghasilkan narasi baru untuk meminimalisasi kesenjangan antara barat dan timur,antara utara dan selatan.
"Karenanya kita perlu narasi baru dalam KAA ke-60 ini. Narasi baru itu adalah keseimbangan global. Kitaberjuang untuk meminimalisasi kesenjangan antara barat dan timur, antara utara dan selatan. Poros global ada di Timur Tengah, yang letaknya sangat strategis, karena di tengah benua Eropa, Afrika dan Asia," ujar Sukamta, Jakarta, Kamis (23/4).
Belum lagi, kata Sukamta, adanya cadangan minyak di Timur Tengah yang jadi rebutan. Gejolak di Timur Tengah, selama ini cukup menentukan konstelasi global.
"Jadi narasi baru yang kita butuhkan sekarang adalah komitmen konkret untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina di Timur Tengah. Tidak hanya sekadar perdamaian," tuturnya.
Selain itu, narasi baru KAA ke-60 adalah juga memberi alternatif baru kepada masyarakat dunia atas persoalan-persoalan pembangunan. Bahwa kiblat pembangunan sekarang, tidak melulu menuju barat.
Zaman sekarang, sambung dia, sudah mulai tumbuhsistem ekonomi atau keuangan syariah yang bisa jadi alternatif. Di dunia politik juga sudah terjadi sintesis dari demokrasi dan sosialisme.
Bahkan, Sukamta mengatakan, Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia sudah lebih maju dari itu semua. Zaman sekarang, swasta dan pemerintah seolah saling menginspirasi.
"Dunia pemerintah mulai reinventing birokrasinya. Dunia swasta juga mulai mengorganisasikan dirinyasebagaimana sebuah pemerintahan," ucapnya.
Semua itu, kata politisi PKS itu, adalah lompatan dalam peradaban manusia, karena adanya teknologi.
"Kita ingin di zaman baru ini, melalui KAA ke-60, lahir narasi baru dari bangsa-bangsa Asia-Afrika sebagai alternatif untuk menjawab tantangan global," ucap Sukamta.[beritasatu.com]
